Senin, 29 Oktober 2012

UTS MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

Cara mengerjakan       :
  • Soal 1s/d 5 jawablah dengan uraian sesuai materi kuliah.
  • Jawaban yang benar untuk setiap item pertanyaan memiliki nilai= 20
  • Diperkenankan  membuka buku (OPEN BOOK)
  •  kerjakan di lembar jawaban folio UTS yang telah di sediakan oleh AKADEMIK.
  • kerjakan sendiri ditulis tangan tidak diketik komputer jangan lupa tulis nama/nim/kelas/smstr.
  •  kemudian di kumpulkan tanggal 6 Nopember saat kuliah di Gedung Ushuluddin U1.02

 Soal.

  1. uraikan sejarah perkembangan bahasa Indonesia!
  2. Jelaskan apakah ragam bahasa itu?
  3.  Apakah pengertian kalimat efektif? dan Buatlah sedikitnya 2 contoh kalimat efektif?
  4. Berikan uraian tentang kaidah bahasa Indonesia!!
  5. Berikan uraian tentang pemakaian kalimat dalam bahasa Indonesia!


                      .....................Selamat Mengerjakan.....................

UTS MATA KULIAH KONSELING DAN PSIKOTERAPI

Cara mengerjakan       :
  • Soal 1s/d 5 jawablah dengan uraian sesuai materi kuliah.
  • Jawaban yang benar untuk setiap item pertanyaan memiliki nilai= 20
  • Diperkenankan  membuka buku (OPEN BOOK).Kerjakan sendiri-sendiri.
  • Dikumpulkan langsung pada dosen pada pertemuan minggu depan (6 Nop.12)


1. Buatlah rangkuman tentang :
      
a.       Pengertian Konseling
b.      Pengertian Psikoterapi
c.       Perbedaan konseling dan psikoterapi
d.      Perbedaan Teknik-teknik Konseling dan Teknik-teknik Psikoterapi

2. Buatlah Rangkuman Tentang masing-masing terapi :
    a. Pendekatan Psikoanalisa
    b. Pendekatan kognitif
    c.Pendekatan Afektif
    d.Pendekatan Behavioristik
   


...............Selamat Mengerjakan...................







U T S MATA KULIAH ILMU DAKWAH

Cara mengerjakan       :
  • Soal 1s/d 5 jawablah dengan uraian sesuai materi kuliah.
  • Jawaban yang benar untuk setiap item pertanyaan memiliki nilai= 20
  • Diperkenankan  membuka buku (OPEN BOOK).Kerjakan sendiri-sendiri.
  • Ditulis tangan dan di kumpulkan pada pertemuan minggu depan(6 Nop.12)

Buatlah Rangkuman tentang :
1. Terminologi / pengertian Dakwah!
2. Objek dan Metode Ilmu Dakwah ! dan manfaat/
    kegunaannya ?, beri contohnya !
3. Ilmu bantu atau ilmu yang terkait dengan Ilmu Dakwah!
4. Dasar dan Sumber Dakwah Islam ?
5. Unsur-Unsur dan Proses Dakwah ?




----------------selamat mengerjakan---------------















Senin, 22 Oktober 2012

SOAL UTS MTK PROBLEMA AGAM

cara mengerjakan.
  • kerjkan di lembar jawaban uts yang disediakan akademik
  • jgn lupa tulis nama/nim/kelas/ttd absensi   kuliah (di rak absensi akademik)
  • kumpulkan pada ketua kelas dan serahkan ke bu Hurin bersama absensinya.
  1. Buatlah contoh-contoh problem agama! minimal 20 contoh
  2. Apakah faktor-faktor kegoyahan iman?
  3. uraiakan pengertian dan berbagai faktor konversi agama?
  4. berikan alasanmu mengapa orang Islam  mudah sekali konversi agama ke agama lainnya?
  5. orang dulunya perampok kemudian  jadi ustad apakah ini merupakan konversi agama?

Senin, 12 Maret 2012

Vidio Praktik Konseling

Untuk mengasah kemampuan anda dalam mengembangkan komunikasi dan hubungan konseling simak baik-baik vidio ini, tentang tiap-tiap aplikasi ketrampilan konseling dan respon minimal yang dilakukan konselor.

Sabtu, 10 Maret 2012


HIPNOTIS DALAM PROSES MENGAJAR DI SEKOLAH DAN DAKWAH

A. Pendahuluan

Observasi dan need asesmen dilapangan, bahwa tugas para da’i dan guru dalam proses transformasi pengetahuan agama dan pengetahuan umum, dapat diketahui masalah yang dialami mereka berkenaan dengan kurangnya minat dan interes para mad’u dan siswa di sekolah untuk mendengarkan pesan-pesan da’i dan Guru. Sehingga perlu untuk menentukan langkah-langkah solusinya. Para siswa dan mad’u sering kali merasakan kejenuhan bila mengikuti pelajaran sistim ceramah saja, bahkan tidak dapat dielakkan rasa kantuk karna bosan mengikuti ceramah. Para mad’u dan siswa kurang perhatiannya dikarenakan adanya Teknologi Informatika atau I.T sesatu media transformasi pengetahuan yang lebih menarik minat mereka. Maka perlunya para da’i dan guru menyajikan pesan-pesannya dengan teknik yang menarik, yaitu HIPNOSA.

Dalam bahasa Inggris, hipnotis disebut sebagai "hypnosis" atau "hypnotism". Istilah "hypnosis" pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter ternama di Inggris yang hidup antara tahun 1795 - 1860. Sebelum masa James Braid, hipnotis dikenal dengan nama "Mesmerism" atau "Magnetism". Hypnosis berasal dari kata "hypnos" yang merupakan nama dewa tidur orang Yunani. Namun perlu dipahami bahwa kondisi hipnotis tidaklah sama dengan tidur. Orang yang sedang tidur tidak menyadari dan tidak bisa mendengar suara-suara disekitarnya. Sedangkan orang dalam kondisi hipnotis, meskipun tubuhnya beristirahat (seperti tidur), ia masih bisa mendengar dengan jelas dan merespon informasi yang diterimanya. Hipnotis telah dipelajari secara ilmiah lebih dari 200 tahun. Banyak studi klinis dan eksperimental mencoba menentukan apa yang paling unik dari hipnotis dibanding fenomena mental lainnya. Keunikan ini perlu dipahami untuk merumuskan sebuah definisi hipnotis yang akurat. Namun sampai sekarang, definisi hipnotis yang diungkapkan setiap tokoh masih berbeda-beda. Semua orang setuju adanya sesuatu yang dinamakan hipnotis, tapi berbeda pendapat mengenai apa itu hipnotis. Beberapa definisi tentang hipnotis yang pernah diungkapnya diantaranya: (1) Hipnotis adalah suatu kondisi yang menyerupai tidur yang dapat secara sengaja dilakukan kepada seseorang, di mana seseorang yang dihipnotis bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, serta lebih mudah menerima sugesti. (2) Hipnotis adalah praktek mempengaruhi orang lain agar mengikuti apa yang diperintahkan oleh ahli hipnotis. (3) Hipnotis adalah suatu kondisi pikiran yang terpusat sehingga tingkat sugestibilitas

(daya terima saran) meningkat sangat tinggi.(4)Hipnotis adalah seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, yang dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak dari Beta menjadi Alpha/Theta. (5). Hipnotis adalah seni eksplorasi alam bawah sadar (Setiawan Hadi,2011).

Semua definisi hipnotis di atas benar, karena menandakan salah satu atau beberapa gejala dari kondisi hipnotis. Akan tetapi apa yang diungkapkan diatas belum bisa mencerminkan keunikan hipnotis yang membedakan hipnotis dengan kondisi mental lainnya. Sebab itu, para pakar hipnotis yang terkumpul dalam U.S. Department of Education, Human Services Division, membuat definisi “Hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking” atau “hipnotis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugesti tertentu”.

Menurut Indra Majid (2009), bahwa Disadari maupun tidak, kita mengalami hipnotis setiap hari. Ketika kita sangat fokus membaca novel/buku, kita terhipnotis oleh isi novel/buku yang kita baca sampai-sampai tidak mendengar ketika seseorang memanggil kita. Contoh lain fenomena hipnotis yaitu saat kita menonton film atau sinetron yang seru. Kita merasakan ketegangan, terharu, cemas, sedih, bahkan mungkin ada yang menangis mengikuti jalan cerita, padahal kita tahu bahwa yang kita saksikan hanya cerita. Kapanpun pikiran dan perasaan kita terpengaruh oleh apa yang kita lihat, dengar, atau rasakan, sebenarnya kita telah terhipnotis.

Menurut pakar hipnosis Brakman Hill (2001), bahwa banyak sekali manfaat hipnotis. Karena terlalu banyak dan sangat bervariasi, tidak seorangpun yang bisa secara pasti menyebutkan apa saja manfaat yang bisa diperoleh dari hipnotis. Hipnotis bisa berperan hampir di semua bidang kehidupan yang melibatkan pikiran manusia. Jenis-jenis hipnotis berikut ini dibedakan berdasarkan bidang aplikasinya yang paling populer dalam dunia hipnotis, seperti Hypnotherapy, Medical Hypnosis, Comedi Hypnosis, Metapisycal Hypnosis, Marketing Hypnosis.

Sedangkan menurut Andri Hakim (2011), guru sudah saatnya mengajar dengan menggunakan teknik hipnosis, agar tumbuh kedekatan antara guru dan murid. Dengan teknik hipnosis meningkatkan kreativitas guru belajar mengajar.

Sementara Drs. Budiana, MM, Direktur SMP-SMA Diknas Propinsi Jawa Barat, dalam sambutannya mengatakan guru memiliki peran yang strategis dan penting dalam era globalisasi. Untuk itu guru harus mampu membawa anak didiknya menjadi manusia pembelajar. Lebih khusus ia menambahkan bahwa anak didik perlu memiliki kompetensi di era global ini. Inilah tugas berat untuk para guru yang perlu diemban. Namun pada kenyataan banyak persoalan yang dihadapi baik oleh siswa maupun guru. Beberapa hal dicontohkan Andri, seperti melihat siswa yang stres menghadapi ujian nasional, ada berita guru stress di Malang yang menganiaya tiga siswa. Selain itu, masih banyak lagi contoh kegagalan proses belajar dan mengajar di kelas, antara guru dan murid. Salah satunya penyebabnya, guru gagal membina kedekatan dengan murid. Maka solusinya, perlu cara dahsyat dan efektif untuk membangun kedekatan antara guru dan murid. Melalui teknik hipnosis, cara ini cenderung bisa memotivasi baik untuk guru sendiri maupun murid. Aneka teknik hipnosis ini bisa memperbaiki metode belajar-mengajar yang selama ini dirasakan gagal dan tidak efektif. Seperti cara menciptakan suasana nyaman, murid menjadi tertarik dan turut dalam aktivitas belajar.

Dalam bidang dakwah Abubakar Sahla (2007), kegiatan dakwah dan dzikir dengan teknik hipnosis dapat meningkatkan minat dan kekhusyukan para mad’u, sehingga pola-pola dakwah dan dzikir dengan hipnosis sangat efektif, seperti contoh dakwah para wali dengan lagu-lagu sholawatan dan syi‘iran dapat menarik minat mad’u untuk melafadkan kalimah-kalimah toyibah dan memahami pesan-pesan agama.

B. Pengertian Hipnoteaching dan Hipnodakwah

Bagaimanakah cara menyajikan materi pelajaran dengan sebuah teknik yang diistilahkan dengan “hypnoteaching”,Bagaimanapula menyajikan materi dakwah dengan “hipnodakwah” Yaitu menyajikan materi dengan menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Sehingga perhatian siswa akan tersedot secara penuh pada materi Anda. Sama persis seperti ketika Anda berjalan di sebuah shopping center/ Pasar kemudian melihat baju yang begitu anggun sedang terpajang di etalase sebuah toko pakaian. Atau sebuah papan pengumuman besar yang digantung di depan pintu toko, dengan tulisan Big Sale Up to 75%. Berapa detik perhatian Anda secara spontan tersedot pada pajangan tersebut ? Bayangkan lebih lagi jika ada pramuniaganya yang ramah menyapa Anda dan berkata “silahkan ibu / mbak. Silahkan pilih yang ibu / mbak suka. Setiap pembelian 3 buah barang akan mendapat bonus voucher belanja senilai Rp 100rb”. Pertanyaan saya, Seberapa kuat Anda berpaling dari hal tersebut.

Ketika sebuah pesan disampaikan melalui bahasa bawah sadar. Akan membuat menarik perhatian orang bahkan enggan untuk berpaling. Hal itulah yang bisa juga dapat kita lakukan pada pada proses pengajaran dan pada saat menyampaikan pesan dakwah.. Yaitu membuat mereka memberikan perhatian yang tinggi pada ceramah kita, mereka bersemangat dan bahagia ketika mengikuti sesi ceramah kita.

C. Untuk melakukan hipnoteaching dan hipnodakwah, hanya diperlukan teknik-teknik sederhana

Berikut ini adalah teknik-teknik dasar yang wajib dilakukan agar dapat menguasai menjadi da’i dan guru yang memukau/menyenangkan/menarik perhatian Mad’u dan peserta didik, antara lain :

1. Niat dan motivasi dalam diri Guru dan Mad’u

Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan bekerja cerdas untuk mencapai kesuksesan tersebut. Niat yang besar akan memunculkan motivasi yang tinggi, serta komitmen untuk concern dan survive pada bidang yang kita tekuni. Niat seseorang akan membentuk kepribadian yang baik, yaitu ikhlas (genuine), Empati (kepedulian yang tinggi), dan penghargaan tinggi terhadap orang lain (positiv regard). Dalam ajaran Islam niat seseorang akan menentukan hasil yang diperbuatnya. Karena itu niatkan pada diri kita tujuan Ibadah memohon keridloan Allah SWT dalam mengajar dan berdakwah.

2. Pacing

Yang kedua ini, adalah teknik yang sangat penting. Pacing berarti menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta gelombang otak dengan orang lain, atau siswa Anda. Prinsip dasar disini adalah “manusia cenderung, atau lebih suka berkumpul / berinteraksi dengan sejenisnya / memiliki banyak kesamaan dan kedekatan dengan siswa dan mad’u.”

Misalnya Anda menghadiri sebuah pertemuan seluruh warga di tempat tinggal Anda. Dimana terdapat beberapa strata usia, diantaranya bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, anak-anak. Misalnya mereka datang dari berbagai penjuru secara acak, dan kemudian dipersilahkan dengan bebas untuk memilih tempat duduk. Kira-kira apakah bapak-bapak, ibu-ibu, remaja dan anak-anak duduk secara membaur dan acak ? Atau mereka cenderung berkumpul sesuai usianya ? Bapak-bapak memilih untuk ngobrol dengan sesama bapak-bapak. Sedang ibu-ibu juga memilih melakukan hal yang sama. Remaja dan anak-anak pun akhirnya sibuk bercanda dengan sesamanya. Belum lagi para penggemar sepak bola akan ngobrol seru dengan sesama penggemar sepak bola. Penggemar gossip pun akan berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama suka gossip.

Secara alami dan naluriah, setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang untuk berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya. Seperti misalnya Anda yang berprofesi sebagai guru / pendidik, da’i. Jika Anda boleh memilih, pasti Anda lebih nyaman berkumpul dan ngobrol bersama sesama guru / pendidik atau da’i meski dari usia yang berbeda-beda, daripada Anda berkumpul dengan para anggota DPR atau pengusaha pabrik yang kaya raya, atau mungkin para gembel. Jika Anda merasa nyaman berkumpul dengan orang pada golongan tertentu, hal tersebut berarti Anda memiliki banyak kesamaan dengan orang-orang dalam golongan tersebut. Coba anda renungkan, kesamaan-kesamaan diantara beberapa orang, akan memancarkan gelombang otak yang sama. Sehingga orang-orang dalam golongan itu akan merasa nyaman berada di dalamnya. Dengan kenyamanan yang bersumber dari kesamaan gelombang otak ini, maka setiap pesan yang disampaikan dari orang satu pada orang-orang yang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan sangat baik.

Sama dengan siswa-siswa kita. Jika mereka membenci pengajaran Anda, berarti gelombang otak Anda belum setara dengan mereka. Anda dan para siswa Anda belum “click”. Meskipun usia Anda jauh lebih tua daripada siswa Anda, namun gelombang otak dapat disetarakan dengan melakukan atau seakan-akan melakukan dan berfikir seperti siswa Anda. Dalam hal ini, Anda wajib mengalah terlebih dahulu. Dalam arti Andalah yang harus menyesuaikan gelombang otak Anda pada siswa Anda. Bukan sebaliknya siswa Anda yang menyesuaikan gelombang otak Anda.

Cara-cara melakukan pacing pada siswa Anda :

· Bayangkan Anda adalah seusia siswa-siswa Anda atau mad’u anda. Disamping juga melakukan aktivitas dan merasakan hal-hal yang dialami siswa-siswa Anda pada masa sekarang. Bukan pada saat Anda masih sekolah dulu.

· Gunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa yang sering digunakan oleh siswa-siswa dan mad’u anda. Kalau perlu gunakan bahasa gaul yang sedang trend di kalangan siswa atau mad’u.

· Lakukan gerakan-gerakan dan mimik wajah yang sesuai dengan tema bahasan Anda.

· Sangkutkan tema pelajaran Anda dengan tema-tema yang sedang trend di kalangan siswa dan mad’u.

· Selalu update pengetahuan Anda tentang tema, bahasa hingga gossip terbaru yang sedang trend di kalangan siswa dan mad’u Anda.

Dengan melakukan hal-hal tersebut, maka tanpa sadar gelombang pikiran Anda telah sama dengan para siswa atau mad’u yang dihadapan anda. Akibatnya adalah siswa-siswa Anda merasa nyaman untuk bertemu dengan Anda, begitupulah dengan para mad’u kerasaan mengikuti ceramah kita. Jika hal ini telah terjadi, maka bersiaplah untuk melakukan teknik berikutnya. Pacing merupakan keterampilan dasar dalam setiap proses komunikasi yang bersifat dialogis merupakan pembukaan untuk memulai suatu komunikasi. Bila hal ini berhasil dilakukan dengan baik, maka hal itu akan menjadi awal bagi proses komunikasi selanjutnya. Sapaan awal dengan nada suara yang baik adalah merupakan pintu pertama dari komunikasi, misalnya ucapan “Assalamu’alaikum, dst. “Selamat pagi,apa kabar semuanya..? selamat berjumpa, dsb.” Hal itu dilakukan dengan tekanan suara, sikap sopan, kontak mata, penampilan perawakan, pengamatan, gerak badan, dsb. Secara psikologis, pacing merupakan status situasi yang memberikan suasana hubungan yang sedemikian rupa dimana para peserta merasa dirinya diterima, merasa dekat, merasa penting, dan dihargai martabatnya. Ketrampilan pacing dapat dilakukan berbagai cara seperti:

• Ungkapan salam dan sapaan yang penuh sopan, dengan nada suara yang baik

• Penampilan diri dengan postur (perawakan) fisik yang meyakinkan

• Gerakan fisik yang disertai dengan perhatian secara menyeluruh

• Pengakuan, sentuhan, dan kontak fisik yang sederhana dan penuh perhatian, disertai dengan sikap yang menunjukkan bahwa kehadiran kita sebagai sesuatu yang akan memberikan makna bagi para peserta.

• Memelihara kontak mata secara menyeluruh dan tepat sesuai dengan situasi dan topik bahasan.

3. Leading.

Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing Anda lakukan. Jika Anda melakukan leading tanpa didahului dengan pacing, hal itu sama saja dengan memberikan perintah pada siswa Anda dengan resiko siswa Anda melakukannya dengan terpaksa dan tertekan, begitupulah dengan perintah atau ajakan kita kepada para Mad’u. Hal ini akan berakibat pada penolakan diri mereka. Atau lebih kongkritnya adalah siswa atau mad’u akan lebih senang dan gembira ketika Anda menyudahi ceramah. Setelah Anda melakukan pacing, maka siswa Anda akan merasa nyaman dengan Anda. Pada saat itulah hampir setiap apapun yang Anda ucapkan ajarkan, mereka akan melakukannya dengan suka rela dan bahagia. Anda bagaikan kekasih bagi siswa dan mad’u (bukan berarti melibatkan romantisme). Dalam arti, mereka akan selalu menantikan sesi pelajaran Anda. Sesulit apapun materi Anda, maka pikiran bawah sadar siswa atau mad’u Anda akan menangkap materi pelajaran atau ceramah Anda dengan sangat mudah bagi mereka.

Mengenal dan memahami siswa ataupun mad’u, merupakan langkah awal yang harus dilakukan. Harus diingat mereka itu terdiri atas individu yang beraneka ragam dalam berbagai aspek seperti pendidikan, pengalaman, ciri-ciri pribadi, usia, pekerjaan, sikap, latar belakang keluarga, masalah yang dihadapi, kebiasaan, keturunan, dan jenis kelamin dan sebagainya. Semua itu akan memberikan corak dan warna suasana kegiatan pengajaran ataupun ceramah. Perlu disadari bahwa mereka sebagai pribadi yang memiliki identitas dan harga diri masing-masing dan kehadiran mereka dilatarbelakangi oleh hal itu semua. Sikap yang harus dikembangkan oleh Guru dan Da’i adalah memahami dan menghormati keragaman mereka. Untuk itu diperlukan suatu keterampilan yang seefektif mungkin dalam melakukan pendekatan. Dengan memperhatikan, mengenal dan memahami karakter dari masing-masing individual, kita dapat menetapkan strategi untuk menghadapinya. Kita perlu mengupayakan agar mereka dapat kita ajak untuk melakukan atau mengerjakan tanpa harus menganggu kondisimasing-masing pribadi.

4. Gunakan kata positif.

Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negative. Contohnya adalah sebagai berikut, perhatikan kalimat saya berikut ini :

“Bapak–ibu guru sekalian. Saya minta Anda untuk jangan pernah sekali-kali membayangkan kelinci memakai topi. Saya ulangi lagi bahwa Anda tidak diperkenankan sama sekali untuk membayangkan kelinci memakai topi. Karena Anda saat ini benar-benar dilarang keras untuk membayangkan kelinci memakai topi. Sekali lagi saya ingatkan jangan pernah mencoba untuk membayangkan kelinci memakai topi”.

Apa yang terjadi ? Apakah Anda malah sempat membayangkan kelinci yang memakai topi ? Padahal saya telah bilang jangan pernah, tidak diperkenankan, dilarang keras, dan jangan pernah mencoba. Namun yang terjadi adalah Anda semakin membayangkan.

Jika Anda ingin lebih membuktikan hal ini, bacakan kalimat tersebut pada rekan kerja Anda, atau pada siswa Anda. Saya yakin akan banyak sekali yang tertawa terbahak-bahak, karena terbayang betapa lucunya kelinci memakai topi. Itulah yang terjadi pada pikiran bawah sadar manusia, yaitu tidak menerima kata negative. Jika ada kata negative, maka yang diterima adalah kata dibelakang kata negative tersebut. Sedangkan kata negative-nya diabaikan. Misalnya kalimat “jangan ramai”, maka yang ditangkap adalah “ramai”. Maka yang terjadi siswa Anda malah ramai. Anda bisa lakukan percobaan kecil pada anak yang berusia dibawah 5 tahun. Karena pada usia ini pikiran sadarnya belum terbentuk sempurna. Sehingga masih didominasi oleh pikiran bawah sadar. Ketika anak usia dibawah 5 tahun menangis, coba katakan “jangan nangis”, maka yang terjadi adalah ia menangis semakin keras.

Dalam hal ini, sebaiknya cari padanan kata yang positif. Misalnya “jangan ramai” diganti “tenang” atau “diam”. Saya yakin Anda, sebagai guru pasti lebih kreatif dalam memilih padanan kata daripada saya. komunikasi yang baik. Tanpa komunikasi yang baik, niscaya pesan yang diinginkan sulit menimbulkan efek yang positif terhadap siswa dan mad’u. Dalam al-Qur'an, terdapat beberapa isyarat tentang pola-pola komunikasi yang ditujukan dalam beberapa istilah dibawah ini:

a. Qawlan ma'rufan (Q.S.Al-Baqarah: 263)

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.

Perkataan yang baik Maksudnya menolak dengan cara yang baik, dan maksud pemberian ma'af ialah mema'afkan tingkah laku yang kurang sopan dari si penerima. An-Nisa : 8 “dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang baik. Al-Ahzab:32 “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka anganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik.” Maksudnya Perkataan yang baik Bahasa yang sesuai dengan tradisi, bahasa yang pantas atau cocok bahasa yang dapat diterima akal untuk tingkat usianya.

b. Qawlan kariman (Q.S. Al-Isra': 23)

“dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”.

Maksudnya Perkataan yang mulia Bahasa yang memiliki arti penghormatan, bahasa yang enak didengar karena terdapat unsur-unsur kesopanan.

c. Qawlan maysuran (Q.S.Al-Isra': 28)

“dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas”.

Maksudnya Perkataan yang pantas Bahasa yang dimengerti, bahasa yang dapat menyejukkan perasaan.

d. Qawlan balighan (Q.S. An-Nisa: 63)

“..mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.

Maksudnya Perkataan yang mengena/ mendalam Bahasa yang efektif, sehingga tepat sasaran dan tujuannya, bahasa yang efisien, sehingga tidak membutuhkan banyak biaya, waktu dan tempat.

d. Qawlan layyinan (Q.S. Thaha: 44)

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Maksudnya Perkataan lemah lembut Bahasa yang halus, sehingga menembus relung kalbu, bahasa yang tidak menyinggung perasaan orang lain, bahasa yang baik dan enak didengar.

e.Qawlan sadid (Q.S.An-Nisa': 9)

“dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar”.

Q.S. Al-Ahzab: 70

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, maksudnya Perkataan benar dan berimbang Bahasa yang benar, bahasa yang berimbang (adil) dari kedua belah pihak.

f. Qawlan azhima (Q.S. Al-Isra': 80)

“..dan Katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”.

Maksudnya Perkataan yang berbobot Bahasa yang mendalam materinya, bahasa yang berbobot isinya.

g. Qawlan min rabb rahim (Q.S.Yasin: 58)

“(kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai Ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang”.

Maksudnya Perkataan rabbani Bahasa yang isinya bersumber dari Tuhan, bahasa yang yang mengandung pesan Tuhan.

h.Qawlan tsaqila (Q.S. Al-Muzammil: 5)

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat”.

Maksudnya Perkataan yang berat Bahasa yang berbobot yang mengandung informasi kewajiban manusia, syariah, halal-haram, hukum pidana-perdata. Bahasa di atas dapat digunakan melihat kondisi dan psikologi klien sehingga tujuan dari proses konseling dapat tercapai dengan baik.

i. Humor

Humor boleh dilakukan asalkan terpuji atau positif kata-katanya. Kita mengenal sebuah istilah ice breaking, sebagai salah satu titik krusial dalam menjalin rapport di garis awal sesi ini. Humor telah menjadi pilihan spontan, tidak kecuali bagi Guru dan siswa, Da’i dan Mad’u. Guru dan Mad’u perlu melihat dan menentukan kondisi yang tepat ketika akan menyelipkan atau menggunakan humor dalam sesi ceramahnya. Penggunaan humor ini menuntut pengukuran tingkat ketepatan dalam waktu dan sensitivitas. Humor yang tepat dan positif bukan tidak mungkin mampu menciptakan-great-insight-bagi-kehidupan-dan-dunia-Mad’u dan siswa. Sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang mungkin tercipta, idealnya humor mampu meredakan ketegangan dan memberi kemajuan positif dalam interaksi selanjutnya.

Studi telah menunjukkan bahwa humor memang instrumen yang ampuh dalam konseling. Interpretasi tepat terhadap atmosfer atau suasana hati siswa dan mad’u, menjadi pertimbangan penting bagi Guru dan Da’i mengeluarkan joke-joke segar sebagai pendukung kesuksesan-ceramah.

5. Berikan pujian.

Pujian merupakan reward /reinforcman peningkatan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Maka berikanlah pujian dengan tulus pada siswa. Khususnya ketika ia berhasil melakukan atau mencapai prestasi. Sekecil apapun bentuk prestasinya, tetap berikan pujian. Termasuk ketika ia berhasil melakukan perubahan positif pada dirinya sendiri, meski mungkin masih berada di bawah standart teman-temannya, tetaplah berikan pujian. Dengan pujian, seseorang akan terdorong untuk melakukan yang lebih dari sebelumnya. Begitupulah kepada Mad’u berikan pujian atas kedatangan mereka dalam kegiatan pengajian atau ibadah sholat jum’at yang membuktikan bahwa mereka adalah golongan orang-orang yang muttaqin.

Dalam memberikan pujian, hindari pula kata penghubung negative. Misalnya : tapi, namun, cuma saja, dan lain sebagainya. Karena penggunaan kata-kata tersebut akan membuat pujian Anda sia-sia dan terkesan mengolok-olok. Contohnya kalimat seperti ini :

“Adi, kamu itu anak yang pandai, ibu / bapak seneng sekali punya murid seperti kamu. Tapi sayangnya kamu kurang memperhatikan kerapian pakaianmu”.

Bayangkan jika anda sendiri dipuji orang dengan kalimat seperti itu. Pernahkah Anda dipuji dengan kalimat seperti itu ? Saya yakin pernah. Coba Anda ingat dan rasakan kembali pada saat anda dipuji dengan kalimat seperti itu. Dapatkah Anda rasakan seakan-akan Anda merasa bangga ketika awal kalimat itu diucapkan. Dan kemudian seakan-akan ada perisai besar dan tebal menyelimuti diri Anda, ketika kata “tapi” diucapkan ? Coba bayangkan kembali.

Jika pujian digabungkan dengan kritik atau saran, maka yang lebih tertangkap adalah bentuk penyerangan pada harga diri orang yang di puji. Bukannya meningkatkan harga diri, malah menjatuhkan. Memang ini adalah hal yang sepele dan sering terjadi. Namun efeknya sangat besar dalam system psikologis seseorang.

Cara untuk menghindari kata penghubung negative adalah dengan menghilangkan kata penghubung tersebut. Misalnya “Kamu sebetulnya adalah siswa yang pandai, sangat membanggakan. Akan lebih membanggakan lagi kalau kamu lebih memperhatikan kerapian penampilanmu”. Dengan demikian perisai pelindung harga diri belum sempat keluar, namun sudah keburu pesan perbaikan (kritik) masuk dalam program bawah sadarnya.

6. Modeling.

Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci hypnoteaching. Setelah siswa menjadi nyaman dengan Anda, kemudian dapat Anda arahkan sesuai yang Anda inginkan, dengan modal kalimat-kalimat positif. Maka perlu pula kepercayaan (trust) siswa pada Anda dimantapkan dengan perilaku Anda yang konsisten dengan ucapan dan ajaran Anda. Sehingga Anda selalu menjadi figure yang dipercaya. Sangat mudah bukan. Metode ini sangat dahsyat jika Anda terapkan pada siswa Anda atau kepada Mad’u.

Janganlah kita hanya bisa bicara tanpa bisa melakukannya. Rosulullah SAW adalah pribadi seorang pengajar, Guru dan Da’i yang baik yaitu mengajarkan kebaikan dengan menerapkannya dalam dirinya sehingga dapat dilihat apa yang diajarkannya dari apa yang telah diperbuatnya.

Jumat, 02 Maret 2012

SILABI STUDI KELEMBAGAAN KONSELING


SILABUS PERKULIAHAN

1. Mata kuliah : Studi Kelembagaan Konseling

2. Ruang/ Jam /SMT : A3.03,A3.03 (kelas 6C1-6C2),B2.02 (6C3)

3. Kode Mata Kuliah : B3320

4. Bobot SKS : 2 SKS

5. Mata Kuliah Prasyarat : Pengantar Bimbingan dan Konseling

6. Dosen Pengampuh : Arif Ainur Rofiq, S.Sos.I., S.Pd.,M.Pd.

7. Waktu : 2X 60 menit.

8. Semester : Genap

Deskripsi Mata Kuliah :

Dalam satu semester mahasiswa diharapkan dapat memahami pengertian lembaga konseling, pola-pola lembaga konseling, struktur lembaga konseling, fungsi dan tanggungjawab personal lembaga, tata laksana lembaga konseling, dan kegiatan pendukung (alih tangan kasus dan supervisi).

Pengalaman Belajar

Pengalaman belajar yang dikembangkan dalam kegiatan perkuliahan ini meliputi kegiatan penalaran berbagai hal tentang konsep dan prosedur lembaga konseling.

  1. kegiatan tatap muka di kelas berupa kegiatan ceramah dan diskusi kelompok,
  2. kegiatan terstruktur yang dilakukan melalui resitasi berupa menyusun makalah dan laporan studi lapangan pada lembaga konseling berkenaan dengan kelembagaan dan fungsinya.
  3. Penyajian hasil penyusunan makalah dan laporan.

Evaluasi Hasil Belajar

Keberhasilan dalam mengikuti mata kuliah ini didasarkan atas penilaian terhadap:

  1. hasil-hasil pekerjaan mahasiswa
  2. memenuhi persyaratan kehadiran minimal 80%
  3. meyelesaikan tugas (bobot 1)
  4. ujian tengah semester (bobot 2)
  5. ujian akhir semester (bobot 2)
  6. ditambah NPF (nilai perfomance : kehadiran,pakaian,kerapian,kesopanan,ketertiban).

Uraian Pokok Bahasan Setiap Pertemuan

1. Pendahuluan.

2. Pengertian Lembaga Konseling

3. Pola-pola Lembaga Konseling

4. Fungsi dan tanggungjawab personal BK

5. Tatalaksana Lembaga Konseling

6. Efektifitas Refferal

7. Memimpin dan Kepemimpinan

8. Supervisi BK

Buku Sumber :

1. Depdikbud. (1994) Petunjuk Pelaksanaan BK. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.

2. Nawawi, Hadari.1986.Administrasi dan Organisasi Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

3. Shertzer, B. & Stone, S.C.1981.Fundamentals of Guidance. Boston: Houghton Mifflin Company.

4.Sukardi, Dewa Ketut.2000.Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

5. Gysbers, R.L. & Henderson, P. 1998. Developing and Managing Your School Guidance Program. Virginia:AACD